Pengenalan CSS & Selektor π¨
HTML itu ibarat Tengkorak. Kuat, tapi serem kalau diliat malem-malem. Nah, CSS (Cascading Style Sheets) itu ibarat Kulit, Baju, dan Make-up-nya.
Tanpa CSS, website lo cuma teks item putih kayak dokumen Word yang lupa di-save. Gak asik.
1. Rumus Dasar (Syntax) π
Cara ngomong sama CSS itu gampang. Polanya cuma gini: "Eh Woy [SIAPA], tolong ganti [APANYA] jadi [GIMANA] dong!"
Dalam bahasa alien (coding), ditulisnya gini:
/* Selektor { Properti: Nilai; } */
h1 {
color: red; /* Warnanya jadi MERAH */
font-size: 50px; /* Gedein jadi 50 PIXEL */
text-align: center; /* Geser ke TENGAH */
}2. Cara Nembak Elemen (Selektor) π«
Gimana caranya lo bilang: "Woy tombol login, warnanya biru ya! Tapi tombol hapus warnanya merah!"? Padahal dua-duanya sama-sama tag <button>.
Disinilah kita butuh Selektor (Alat Penunjuk).
A. Tag Selector π£
Ini selektor paling brutal. Kena semua tanpa pandang bulu.
p { color: gray; }Artinya: "Bimsalabim warna semua paaragraf jadi abu-abu!"
B. Class Selector π
Pake tanda Titik (.). Ini yang paling sering dipake. Bisa dipake rame-rame kayak seragam sekolah.
.tombol-biru {
background-color: blue;
color: white;
}HTML-nya: <button class="tombol-biru">Login</button>
C. ID Selector (Si KTP) π
Pake tanda Pagar (#). Ini barang sakral. Sifatnya UNIK. Cuma boleh ada satu elemen yang pake ID ini dalam satu halaman.
#header-utama {
border-bottom: 5px solid black;
}HTML-nya: <header id="header-utama">...</header>
3. Dimana Naruh CSS-nya? π
Ada 3 cara, tapi cuma satu yang "Jos".
-
Inline Style (Dahlah): β Nulis langsung di tag HTML. Bikin kodingan kotor dan susah diurus.
<h1 style="color: red;">Judul</h1> -
Internal Style (Boleh sayang boleh): β οΈ Nulis di bagian atas file (
<head>). Oke buat file kecil, tapi ribet kalau file-nya banyak. -
External Style (Jos Gandos): β Bikin file
.cssterpisah (misalstyle.css), terus dipanggil. Ini cara profesional.